RSS

Upaya Peningkatan jumlah Wisatawan ke Yogyakarta

18 Apr

╬ Usaha yang dilakukan masyarakat sekitar Candi Prambanan untuk menarik simpati pengunjung

Masyarakat di sekitar Candi Prambanan menarik simpati dari wisatawan domestic dan mancanegara dengan cara  berkelakuan sopan, mereka menyambut orang yang datang ke daerah sekitarnya dengan ramah, penuh kesehajaan,  dan ada yang memakai baju adat jogja untuk menyambut tamu wisatawan dari luar kota sebagai bentuk rasa saling menghormati mereka.dan bahkan tak jarang mereka menawarkan untuk mampir ke rumah mereka untuk sekedar mampir silaturahmi menambah persatuan antara penduduk asli jogja dengan wisatawan dalam bingkai Negara Indonesia. Menurut pendapat kami dan penglihatan kami masyarakat sana masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat jawa ,sehingga para wisatawan semakin tertarik untuk datang ke kota Jogja dan tempat –tempat wisata di daerah sana ; seperti Candi Prambanan,Malioboro, Kompleks Keraton dll.

Dalam sistem pemerintahan di Indonesia Ini Yogyakarta adalah salah satu Provinsi yang menjadi Daerah Istimewa di bandingkan dengan daerah lain.Keistimewaan ini muncul karena Yogyakarta  dulu merupakan sebuah Kerajaan ,Dan di pimpin oleh seorang Raja dan sampai sekarang Raja Yogyakarta pun masih memimpin serta merangkap sebagai Gubernur sebagai pengatur sistem pemerintahan di provinsi tersebut. Yogyakarta dijadikan sebagai daerah istimewa memiliki alasan yang beragam, sebagian alasanya ialah Yogyakarta memiliki tata aturan adat yang masih mengemban masa leluhur mereka,

╬ Langkah –langkah Pemerintah dan masyarakat dalam peningkatan jumlah wisatawan di Yogyakatra

Suatu keunggulan tersendiri bila terdapat objek wisata di suatu daerah. Pasalnya, keberadaan objek wisata tersebut dapat meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, serta meningkatkan penerimaan pemerintah melalui pajak dan retribusi. Tak heran bila pemerintah, baik skala nasional maupun lokal, berlomba-lomba memperkenalkan objek wisata kepada para wisatawan, baik asing maupun domestik. Sebab, makin banyak kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut, maka makin besar pula manfaat yang diperoleh.

Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang memiliki keunggulan pariwisata. Daerah ini menawarkan berbagai macam objek wisata, seperti budaya, belanja, kuliner, dan lain-lain. Keanekaragaman objek wisata ini merupakan potensi untuk menarik para wisatawan agar mereka berkunjung ke daerah tersebut. Akan tetapi, potensi tersebut tidak mendatangkan manfaat yang optimal bila pemerintah tidak mengelola objek wisata dengan baik.

Pengeloaan ini diperlukan karena persaingan antar daerah dalam menarik wisatawan makin tinggi. Saat ini, wisatawan memiliki pilihan objek wisata yang makin banyak. Tentu saja, mereka akan mengunjungi daerah yang menawarkan jasa terbaik pada objek tertentu. Dulu, Yogyakarta dikenal paling unggul dalam objek wisata kebudayaan. Namun daerah-daerah lain juga mengembangkan wisata budaya untuk menarik para wisatawan.

Karena itu, pemerintah perlu melakukan reformasi pengelolaan objek wisata agar jumlah wisatawan bisa meningkat dari tahun ke tahun.
Tahun 2010, pemerintah Kota Jogja menargetkan 2 juta wisatawan yang berkunjung ke objek-objek wisata yang terdapat di kota pelajar ini. Sebagaimana diketahui, objek wisata yang terkenal di Kota Jogja adalah Malioboro, Taman Sari, Keraton, dan Kebun Binatang Gembira Loka, dan Taman Pintar. Apakah target ini dapat tercapai? Bila mengamati kinerja pemerintah dalam mengelola objek wisata, muncul rasa pesimis akan tercapainya target ini. Satu contoh adalah pengelolaan kawasan Malioboro. Saat ini, Malioboro makin tidak bersahabat dengan para wisatawan, sebab estetika atau keindahannya makin berkurang.

Berkaca pada kondisi ini, pemerintah Kota Jogja harus melakukan reformasi pengelolaan objek wisata. Pertama, harus ada kesesuaian gerak antar instansi pemerintah. Tanggung jawab untuk menarik perhatian para wisatawan, tentu tidak hanya dibebankan pada dinas pariwisata, tapi juga dinas-dinas terkait, seperti perhubungan, kebersihan, dan lain-lain. Adanya koordinasi antar instansi akan menciptakan pengelolaan wisata yang efektif dan efisien.

Kedua, pemerintah perlu berkolaborasi dengan pihak swasta dalam mengelola objek wisata. Kita tahu, kerap kali masalah kekurangan anggaran dijadikan alasan bagi pemerintah untuk tidak mengelola objek wisata tertentu secara optimal. Padahal, objek wisata tersebut berpotensi mendatangkan manfaat ekonomi bagi pemerintah bila dikelola dengan baik. Untuk menyiasati masalah ini, pemerintah bisa mengajak swasta untuk mengelola objek wisata. Tentu saja, pemerintah perlu menerapkan aturan main yang menguntungkan kedua belah pihak.

Bila langkah-langkah ini dilakukan, pemerintah dan masyarakat Jogja pada umumnya dapat menikmati manfaat dari adanya berbagai objek wisata di kota pelajar ini.

Saat ini telah berkembang industri jasa pariwisata di Indonesia. Dengan dana promosi sejumlah 15 juta Dollar, angka kunjungan nasional naik dari target 6,5 juta wisatawan, dan sepanjang 2008 telah bisa menyumbang devisa sebesar 7,5 Miliar Dolar AS (± Rp 90 Triliun). Tetangga kita Malaysia, meraih 20 juta wisatawan dengan devisa ± Rp 100 triliun dari anggaran promosi sebesar 80 juta dollar AS. Sedang data kunjungan wisatawan ke Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1994 menurut sumber Disparda DIY berjumlah 963.995 orang meningkat jadi 1.792.000 orang (2004), dan 1,6 juta wisatawan (2005). Kenaikan angka-angka ini di tahun 2009 perlu ditingkatkan untuk kepentingan seluruh elemen wisata DIY terutama pemerintah, pelaku wisata dan warga masyarakat seluas-luasnya.

Untuk itu dapat dimengerti jika semua pihak perlu terus memahami karakter dasar industri pariwisata, baik menyangkut kesiapan sarana dan fasilitas kenyamanan, serta daya tarik Kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata. Selain tradisi, atraksi seni budaya, kuliner, kerajinan lokal, peraturan dan aneka usaha jasa pariwisata, unsur pariwisata yang patut disebut adalah peran penting Pemandu Wisata dan Buku Panduan Wisata bagi keberhasilan, kemudahan dan kenyamanan wisatawan. Namun hal paling penting adalah kesiapan seluruh warga Kota Yogyakarta sebagai ‘penerima tamu’ yang baik atas kunjungan wisatawan yang datang.

ADA APA DENGAN POKDARWIS

Dahulu masyarakat mengenal Kelompok Sadar Wisata dan merasakan pentingnya program tersebut. Mengherankan, slogan Sapta Pesona Pariwisata era Menteri Soesilo Soedarman (1989) hilang begitu saja ketika periode kementrian berakhir, dan baru muncul 19 tahun kemudian yakni Permen no. PM 04/UM 001/MKP/2008 Tentang Sadar Wisata. Program ini menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi wilayah.

Pelaksanaan Kelompok Sadar Wisata (Pok Darwis) bisa melalui ceramah, sarasehan, diskusi, kompetisi, percontohan dan perintisan. Ini bertujuan; (1) meningkatkan pemahaman segenap komponen masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik dalam mewujudkan iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya pariwisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (2) Menggerakkan dan memotivasi kemampuan serta kesempatan masyarakat sebagai wisatawan untuk menggali dan mencintai tanah air.

Kelompok Sadar Wisata (Pok Darwis) justru mampu menjalin Multi efek kegiatan pariwisata dan dapat meningkatkan harkat warga menjadi bangsa bermartabat. Kesadaran ini mendorong semua pihak agar mau berjalan berwisata di muka bumi tempat berpijak untuk melihat jejak peradaban manusia yang tergelar (QS. siiru fil ardhi…). Demi peningkatan pembangunan bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Yogyakarta, maka adanya Pok Darwis merupakan kebutuhan bagi keberhasilan pembangunan Kota. Sudah pasti dari sini akan muncul sinergi antara Pemerintah, Pelaku Usaha Pariwisata, Akademisi, Media dan Ormas setempat.

SAPTA PESONA

Sapta Pesona merupakan jabaran konsep SADAR WISATA khususnya terkait dukungan dan peran masyarakat sebagai tuan rumah (host) dalam upaya menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya industri pariwisata Kota Yogyakarta. Jabaran slogan adalah dengan mewujudkan unsur-unsur mantesih siraman:

  1. AMAN
  2. TERTIB
  3. BERSIH
  4. SEJUK
  5. INDAH
  6. RAMAH TAMAH
  7. KENANGAN

Uraian Sapta Pesona tersebut menyatu tak terpisahkan di dalam program-program pembangunan kepariwisataan sebagai sektor andalan devisa Nasional, pendidikan Kota, kebudayaan Bangsa, serta program kesejahteraan warga seperti berikut:

  1. AMAN

Suatu kondisi lingkungan destinasi wisata yang memberi rasa tenang, bebas dari rasa takut dan kecemasan wisatawan.

Daerah tujuan wisata dengan lingkungan yang membuat nyaman wisatawan dalam melakukan kunjungan.

Menolong, melindungi, menjaga, memelihara, memberi dan meminimalkan resiko buruk bagi wisatawan yang berkunjung.

  1. TERTIB

Destinasi yang mencerminkan sikap disiplin, teratur dan profeional, sehingga memberi kenyamanan kunjungan wisatawan.

Ikut serta memelihara lingkungan,

Mewujudkan Budaya Antri,

Taat aturan/ tepat waktu,

Teratur, rapi dan lancer,

  1. BERSIH

Layanan destinasi yang mencerminkan keadaan bersih, sehat hingga memberi rasa      nyaman bagi kunjungan wisatawan,

Berpikiran positif pangkal hidup bersih,

Tidak asal buang sampah/ limbah,

Menjaga kebersihan Obyek Wisata,

Menjaga lingkungan yang bebas polusi,

Menyiapkan makanan yang higienis,

Berpakaian yang bersih dan rapi,

4.SEJUK

Destinasi wisata yang sejuk dan teduh akan memberikan perasaan nyaman dan betah    bagi kunjungan wisatawan.,

Menanam pohon dan penghijauan,

Memelihara penghijauan di lingkungan tempat tinggal terutama jalur wisata,

Menjaga kondisi sejuk di area publik,restoran, penginapan dan sarana fasilitas wisata lain

5.INDAH

Destinasi wisata yg mencerminkan keadaan indah menarik yang memberi rasa kagum    dan  kesan mendalam wisatawan.

Menjaga keindahan obyek dan daya tarik wisata dalam tatanan harmonis yang alami,

Lingkungan tempat tinggal yang teratur, tertib dan serasi dengan karakter serta istiadat   lokal,

Keindahan vegetasi dan tanaman peneduh sebagai elemen estetika lingkungan.

6.RAMAH TAMAH

Sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima hingga   wisatawan betah atas kunjungannya

Jadi tuan rumah yang baik & rela membantu para wisatawan

Memberi informasi tentang adat istiadat secara spontan

Bersikap menghargai/toleran terhadap wisatawan yang datang

Menampilkan senyum dan keramah-tamahan yang tulus.

Tidak mengharapkan sesuatu atas jasa telah yang diberikan

7.KENANGAN

Kesan pengalaman di suatu Destinasi wisata akan menyenangkan wisatawan dan    membekas kenangan yang indah, hingga mendorong pasar kunjungan wisata ulang,

Menggali dan mengangkat budaya lokal,

Menyajikan makanan/ minuman khas yang unik, bersih dan sehat,

Menyediakan cendera mata yang menarik.

 
Leave a comment

Posted by on April 18, 2011 in Perlu Diketahui

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: